Oleh: Andri Nurkamal
(Ditulis di bawah langit malam tanpa pembatas)
Di tahun 1954, tanggal 17 bulan Juni, di dalam rapat pembela Pancasila, bung Karno menyampaikan pidatonya. Dulu, kata sang bapak bangsa, tatkala manusia hidup dalam rimba, Ia di bawah pohon-pohon dan goa-goa, ia mengira bahwa tuhan adalah berupa pohon, petir atau sungai. Dulu, tatkala manusia hidup di dalam alam peternakan, dia mengira bahwa tuhan berupa binatang. Sampai sekarang masih ada sisa-sisa bangsa-bangsa yang menyembah kepada binatang. Dulu, tatkala manusia hidup dalam taraf agrarian, terutama sekali dulu, dia pun mempunyai ciptaan lain daripada tuhan. Dan tatkala manusia masuk di dalam alam industrialisme, banyak yang sudah tidak mengakui kepada tuhan lagi.

Tuhan adalah produk dari suatu kondisi alam dan kemajuan cara berfikir suatu bangsa. Ia bisa berwujud dalam bentuk yang berbeda di antara isi kepala manusia, khususnya, diakibatkan dari kondisi alam dan tingkat kemajuan masing-masingnya.

Beraneka ragamnya keyakinan terhadap Tuhan di hampir banyak bangsa, menandakan Tuhan lebih kepada sesuatu yang dipandang menakutkan atau memberikan harapan, yang akibatnya dapat dirasakan selagi masih di dunia. Artinya, manusia sesungguhnya memiliki rasa takut dan memiliki harapan untuk tenang berkehidupan di bumi. Demi terpuaskannya, manusia membutuhkan Tuhan, dan yang tidak kalah unik, Tuhan yang dimaksud ialah Tuhan ciptaan akalnya sendiri berdasar atas kumpulan pengalaman. Kalau Tuhan ciptaan akal, lalu akal ciptaan siapa? Untuk menjawabnya, apakah akal atau tuhan yang paling absah menjawabnya, akan tetapi kita menghadapi masalah serius lainnya, yaitu siapa yang menghendaki kita bertanya serta i'tikad siapa kita berusaha menenangkan diri dari segala bentuk ketakutan hidup?

Soal lainnya lagi adalah suatu kenyataan pahit bagi manusia yang mendapati ketidakadilan dan penindasan sepanjang hidupnya di dunia, lantas ia mati dalam hati yang penuh dendam, namun karena agamanya tidak mencanangkan jaminan hari pembalasan akhirat, maka manusia naas itu menjadi tragedi tragis yang tidak pernah dipayungi keadilan.

Mungkin kucing tidak akan menanyakan bagaimana bentuk tubuhnya bisa berbeda dengan gajah, atau mentafakkuri kenapa dirinya menyenangi ikan, tapi manusia bukan kucing yang hanya hidup sekedar hidup, ia dianugerahi akal untuk memuaskan segala pertemuan antara akal dan objek segala benda.

Seperti pula kita dibuat tersenyum geli untuk menyatakan kepolosan ayam. Andai ia diberi pengetahuan, tentu pada telurnya mengandung protein tinggi. Tapi ayam tetaplah ayam. Yang berprotein tinggi dibiarkannya, dan gabah padi yang kurang mengandung gizi dimakannya. Itulah ayam. Dengan tidak dianugerahi akal, menjadikannya tetap bisa dimanfaatkan manusia. 

Tapi beda halnya jika akal manusia berfungsi sama persis dengan ayam, betapa malangnya ayam karena terpaksa mendapati kondisi yang senasib seperjuangan dari bangsa yang berbeda. Meski kenyataannya bukan ayam yang malu, tapi kita yang memalukan identitas kemanusiaan.

Seiring dengan perkembangan industri dan teknologi dari masa ke masa, ketakutan dan harapan manusia sejatinya tetap ada dan mengekal sebagai sifat dasar kemanusiaan. Maka pertanyaan pertama yang menyenangkan untuk diketengahkan adalah suatu alasan mendasar, kenapa manusia memiliki ketakutan dan harapan? Padahal jikalau jiwa raga ini milik kita, tentu kita tidak akan mau lahir dengan sifat ketakutan dalam diri.

Redaksi pidato bung Karno dengan menganggap bahwa manusia tidak banyak lagi ber-Tuhan di era industrialisme, pada akhirnya lebih kepada guyonan akal yang menyilaukan. Tidak sebatas pada kedegilan isinya, bahwa tidak banyak orang percaya lagi kepada Tuhan justeru bisa bermakna bahwa Tuhan di sana adalah Tuhan yang lahir dari suatu pengalaman mengerikan secara parsialis. Artinya, industri menggilas Tuhan-Tuhan yang dilahirkan buah perasaan akal di masa lalu yang belum maju. Sehingga ketergantungan manusia pada tangan yang maha baik atau industri, bolehlah dibilang sebagai Tuhan baru.

Dikatakan tuhan baru, karena manusia melabuhkan harapan dan mengentaskan ketakutan pada kehendak industri. Dengan begitu, menggunakan alasan apa pun, sejatinya manusia tidak pernah bisa menaifkan keberadaan Tuhan dari alam pikirannya, sebab manusia, sebagaimana dibuka di atas, senantiasa berada dalam ketakutan dan harapan. Oleh karenanya, selama masih ada kehidupan, dan kedua sifat tersebut masih ada, berarti Tuhan akan selalu ada, disembah dengan cara yang berbeda di tempat ibadah yang berbeda.

Hanyasaja akan kita temukan kualitas temuan akal tersebut pada dimensi lain. Misalkan penganut agama matahari, atau penyembah binatang, setelah kewafatan para penganutnya, masihkah ia ada keterkaitan di alam yang berbeda setelah kematian tersebut? Bila selesai tanpa ada kelanjutannya, maka alangkah pandir berketakutan di dunia kalau tak ada masa pertanggung jawaban pasca kematian. 

Perandaian itu mengurut akal pikiran waras agar menghimpun segala kesenangan tanpa toleransi dengan menyingkirkan segala penghalang agar terciptanya pencapaian pribadi yang menggembirakan. Bilakah tak ada perhitungan pasca kematian, apa artinya berbakti selagi di dunia? Hidup pun terasa kian hambar tanpa nilai. 

Lantas ketakutan dihilangkan dengan meninggikan harapan, dan harapan dihidupkan dengan menakut-nakuti manusia lain. Sekali lagi, itu karena pandangan tentang hidup hanya sekali-kalinya, dan tuhannya pun hanya ciptaan akal yang temporal. 

Atas alamat tersebut, menjadi bertambah naif cara menemukan tuhan dengan cara demikian. Singkatnya, teramat sangat dangkal.

Selanjutnya kita coba melayari fragmen sejarah Indonesia. Pada Faktanya, telah terjadi peralihan besar-besaran keyakinan dari Nusantara yang dahulu adalah serikat berupa raja-raja kecil sebelum bersatu dalam NKRI. Dalam jarum panjang sejarah tersebut, dahulunya nenek moyang bangsa kita adalah Dinamisme dan Animisme. Kemudian imperalisme menancapkan kukunya yang tajam. Ia meraup hasil olahan rakyat pribumi. Rakyat Indonesia di masa tersebut diambil paksa hasil kerjanya, lalu direnggut keyakinan agamanya. Akan tetapi ada sisi terbaik untuk kita potret dari peristiwa si lampau dan si silam. Betapa pun tuhan yang disembah dulu oleh rakyat bangsa adalah nilai pencarian tentang Tuhan perspektif akal klasik dan tradisionil, namun dapatlah kita terima kebenaran yang paling menakjubkannya bahwa sedemikian klasik dan tradisional pun Tuhan yang dulu di anut rakyat, tetapi akhirnya menjatuhkan pilihan keyakinannya pada agama baru di bumi putera secara serentak. Dan tak lain agama yang dimaksud adalah Islam, suatu agama yang tidak datang dengan penindasan dan pedang, sebuah ajaran yang menumpas kasta manusia tanpa melihat nilai strata.

 

Andai bung Karno masih hidup di era milenia ini, akankah ia kaget dengan suatu realitas yang terjadi? Tentang teknologi yang makin tinggi dan pencapaian industri serta sains yang semakin menakjubkan, namun kenyataannya justru seiring sejalan dengan Islam yang kian melebarkan ekspansinya ke berbagai negara di dunia, bahkan masih sama umpama sejarahnya, Islam masuk ke semua penjuru negara tanpa pedang, melainkan dengan ajaran kebenaran yang selalu senafas dengan temuan ilmu pengetahuan dan keserasian akan kemajuan teknologi yang semakin mengakar. 

Hari ini sudah tahun 2017, dan agama Islam masih dipeluk bangsa kita secara mayoritas. Di Eropa juga demikian, Islam begitu antusias didengar dan dipeluk sebagai nilai kehidupan. Barat, sama juga demikian. Padahal, teknologi dan industri tentunya lebih maju dari tahun 1954. Berbeda dengan prediksi bung Karno yang dibuka di atas, justeru Islam menjadi agama yang kian digandrungi bahkan di saat sains dan teknologi makin tinggi dan berkemajuan.

Sebagai penutup, sesungguhnya tulisan singkat ini bukan menitikberatkan pada persoalan diskursus kesahihan prediksi dan atau penerawangan para tokoh mengenai agama dan masa depan manusia. Akan tetapi lebih dari itu, sengaja hal ini diajukan demi memfungsikan akal manusia dan pembinaan dari nilai agama atasnya demi kemanusiaan yang berperadaban di tengah zaman industri dan teknologi serta kemajuan sains yang bergulir sangat cepat.

Indahnya, seberapa cepat pun zaman mengalami kemajuan, dan justeru karena itu, Islam makin terlihat kebenaran segala nilai ajarannya. Maka tak heran, Islam makin tinggi dan pemeluknya makin membludak. Hal ini bisa terjadi disebabkan adanya kesinambungan antara kebenaran teks yang selalu asli dengan kehendak akal yang senantiasa dahaga terhadap kebenaran selalu terbarukan. 

Dari keduanya, timbullah Keselarasan yang saling mengarahkan manusia pada nilai kebenaran, dan dari keduanya juga, akhlaq kemanusiaan menjadi terjaga sebagaimana nilai manusia itu sendiri. Sebab, kemajuan teknologi tanpa dibimbing oleh cursor nilai, niscaya akan menggilas fitroh kemanusiaan.

Seharusnya, semakin tinggi kemajuan industri, teknologi dan sains, maka kebutuhan terhadap siraman agama tentu lebih lagi dibutuhkannya. Dengan begitu, di setiap centi kemajuan zaman, maka manusia terbaik adalah ia yang semakin mendekapkan hidupnya pada garis Tuhan, serta sadar bahwa akalnya perlu sampai pada nilai-nilai transenden hidup yang paling sejati. Untuk itu, merupakan suatu kepastian bahwa Islam akan menjadi agama yang teguh dan komit sekali pun zaman kian membuas dan menebas-nebas.

Ada pun tugas kunci dari dinamika pemikiran ini, adalah semata berharap bahwa besok kemusliman kita lebih lagi diarahkan pada sisi aksiologis dengan segudang kemanfaatannya bagi seluruh alam (rahmatan lil'alamin). Baik Islam, Akal, dan Akhlaq yang sholeh, harus sebagai nilai terapan dibanding himpunan teks dan wacana pikiran.